Paradigma pemikiran manusia dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan

The Thinker (image credit: wikimedia commons)
The Thinker (image credit: wikimedia commons)

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berpikir, setiap saat sejak dilahirkan sampai hembusan nafas terakhir manusia senantiasa berpikir. Berpikir merupakan sebuah proses yang menghasilkan pengetahuan, melalui serangkaian proses berpikir pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dan dialaminya selama hidup sehingga mampu meningkatakan kualitas hidupnya. Dan melalui pengetahuan inilah muncul apa yang dinamakan peradaban manusia. Pada dasarnya, dalam memperoleh pengetahuan, manusia mendasarkan diri pada tiga pokok pertanyaan, yaitu:¬†Apakah yang ingin kita ketahui? Bagaiman cara kita memperoleh pengetahuan? Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?¬†Ketiga pertanyaan ini mewujud dalam tiga paradigma pemikiran, yaitu: Continue reading “Paradigma pemikiran manusia dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan”

Kritik Muhammad Iqbal terhadap argumen-argumen filosofis ketuhanan

Secara umum argumen filsafat skolastik tentang Ketuhanan terdiri atas tiga macam argumen, yaitu argumen kosmologis, argumen teleologis dan argumen ontologis. Muhammad Iqbal dalam bukunya “Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam” mengungkapkan kegagalan ketiga argumen tersebut dalam mencapai definisi tentang hakikat ketuhanan.

Argumen kosmologis, adalah argumen yang bertumpu pada hukum kausalitas atau hubungan “sebab-akibat”. Argumen in menyatakan bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab yang dimana ia menjadi akibat bagi sebab yang lain. Selanjutnya, argumen ini menyatakan bahwa tidaklah mungkin ada rantai sebab-akibat yang terus-menerus tanpa terputus dan tanpa batas. Pada akhirnya, argumen ini menyatakan bahwa pasti akan sampai pada suatu “sebab pertama¬† yang tak bersebab”. Argumen ini menurut Iqbal dengan sendirinya telah melanggar hukum sebab-akibat yang merupakan pangkal bertolaknya argumen ini, dengan memberi batas bagi sang sebab. dalam hukum sebab-akibat, baik sebab maupun akibat keduanya adalah saling bergantung satu sama lain.

Sebab pertama, yang dicapai oleh argumen itu, tak dapat dipandang sebagai suatu keharusan wujud, karena jelas bahwa dalam hubungan sebab-akibat kedua pengertian itu sama-sama saling memerlukan. Pun keharusan wujud itu tidak identiik dengan keharusan yang berlaku dalam konsepi tentang perhubungan sebab-akibat, yang merupakan satu-satunya hal penting yang bisa dibuktikan dengan teori ini. Argumen tersebut sesungguhnya mencoba mencapai pengertian tentang sesuatu yang terbatas justru dengan menolak yang terbatas. Continue reading “Kritik Muhammad Iqbal terhadap argumen-argumen filosofis ketuhanan”