Conflict is par…

Conflict is part of life, without it life would be just a monochrome picture.

May 03, 2014

Advertisements

Pentingnya eror dalam pengukuran ilmiah

Bagi kita yang berkutat dengan sains dan ilmu keteknikan, pengukuran merupakan hal yang sangat penting dan tak terpisahkan terutama dalam eksperimen-eksperimen sains dan ilmu keteknikan. Melakukan pengukuran merupakan satu-satunya cara yang dapat kita lakukan untuk “bertanya” kepada alam dunia fisik tentang sifat, perilaku, keadaan, dan eksistensi materi. “jawaban” alam atas “pertanyaan” ini dapat digunakan untuk memahami karakteristik, melakukan pengendalian, serta pengembangan terhadap materi fisik. Selain itu, pengukuran juga sangat krusial dalam pembuktian kebenaran suatu teori ilmiah sehingga dapat diterima sebagai kebenaran ilmiah atau ilmu pengetahuan.

Vernier scale on vernier caliper (by Tudor Barker https://www.flickr.com/photos/tudedude/5644258671/)
Vernier scale on vernier caliper (by Tudor Barker https://www.flickr.com/photos/tudedude/5644258671/)

Continue reading “Pentingnya eror dalam pengukuran ilmiah”

日本三景, The Three Most Scenic Spot in Japan (Part 3): Pine-clad Islands of Matsushima, Miyagi

日本三景, The Three Most Scenic Spot in Japan (Part 2): The Sandbar of Amanohashidate, Kyoto

日本三景, The Three Most Scenic Spot in Japan (Part 1): Itsukushima Shrine, Hiroshima

Paradigma pemikiran manusia dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan

The Thinker (image credit: wikimedia commons)
The Thinker (image credit: wikimedia commons)

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berpikir, setiap saat sejak dilahirkan sampai hembusan nafas terakhir manusia senantiasa berpikir. Berpikir merupakan sebuah proses yang menghasilkan pengetahuan, melalui serangkaian proses berpikir pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dan dialaminya selama hidup sehingga mampu meningkatakan kualitas hidupnya. Dan melalui pengetahuan inilah muncul apa yang dinamakan peradaban manusia. Pada dasarnya, dalam memperoleh pengetahuan, manusia mendasarkan diri pada tiga pokok pertanyaan, yaitu: Apakah yang ingin kita ketahui? Bagaiman cara kita memperoleh pengetahuan? Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita? Ketiga pertanyaan ini mewujud dalam tiga paradigma pemikiran, yaitu: Continue reading “Paradigma pemikiran manusia dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan”

Budaya mencontek dan korupsi

Image
Cheating (image: wikimedia commons)

Entah sudah berapa kali saya mendengar pembelaan yang dilontarkan mahasiswa atas tindakan curang yang mereka lakukan dalam kegiatan akademik, mencontek dan memberi contekan. Mereka beralasan ini (mencontek) dilakukan agar memperoleh nilai yang baik dan tidak mengecewakan pihak yang telah membiayai kuliah mereka. Ada pula yang beralasan ini dilakuakan sebagai bentuk solidaritas atau rasa kasihan mereka terhadap rekan mereka.

Bagi saya, ini sama seperti mengatakan bahwa korupsi atau mencuri untuk memberi makan keluarga atau menyejahterakan keluarga, rekan atau teman dekat adalah sesuatu yang baik dan sah-sah saja untuk dilakukan. Ternyata logical fallacy seperti ini sudah dipupuk sejak di bangku sekolah dan membudaya bahkan terbantu untuk berkembang dan bertahan dengan bantuan pendidik itu sendiri, dengan melakukan pembiaran contohnya. Dengan budaya mencontek yang telah dipupuk sejak dini ini tidak heran korupsi begitu membudaya di sini. Menjadi sesuatu yang dianggap bukan sebagai sesuatu yang salah atau dosa (bagi yang beragama). Tak lagi bisa membedakan yang yang benar dan salah, yang hak dan yang batil. Karena telah menjadi normal.

#pikiran yang tiba-tiba terlintas tanpa sebab dan menulis di twitter tidak mencukupi

#kalau malam pikiran saya memang suka aneh-aneh -_-

Probolinggo, 27 Februari 2014